40 Hari Menjadi Bagian dari kantor Desa Panigoran
KKN atau Kuliah Kerja Nyata bukan sekadar mata kuliah wajib dalam lembar akademik perkuliahan, tapi juga sebuah ruang pembelajaran yang membawa mahasiswa keluar dari zona teori menuju realitas sosial yang sebenarnya. Itulah yang aku rasakan ketika ditempatkan di Desa Panigoran, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhan Batu Utara, selama 40 hari pengabdian. Di sinilah aku menemukan makna kebermanfaatan ilmu secara langsung, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi masyarakat.
Hari-hari awal kami di desa diwarnai dengan perkenalan, observasi lingkungan, dan penyesuaian terhadap ritme kehidupan warga. Aku dan tim KKN lainnya disambut dengan hangat oleh aparatur desa dan warga lokal, sebuah sambutan yang membuat kami cepat merasa seperti bagian dari mereka. Kantor Desa Panigoran menjadi pusat aktivitas kami, tempat kami berkoordinasi dengan Kepala Desa dan perangkatnya untuk menyusun program kerja.
Sebagai mahasiswa, kami diharapkan tidak hanya datang sebagai pengamat, tapi juga aktif terlibat dan memberi solusi. Tugasku selama KKN tidak lepas dari berbagai pekerjaan teknis dan sosial. Aku dipercaya menjadi bagian dari tim pelaksana dalam program kerja desa, termasuk membantu administrasi, mendata kebutuhan masyarakat, hingga mengelola media dokumentasi dari setiap kegiatan yang kami lakukan.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika aku dipercaya ikut menjadi panitia penyelenggara perlombaan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat desa, dari anak-anak hingga orang tua. Kami merancang lomba tradisional seperti balap karung, panjat pinang, dan tarik tambang, yang disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga. Menjadi bagian dari tim kreatif dan teknis di acara sebesar ini membuatku belajar banyak tentang manajemen acara dan pentingnya kekompakan tim.
Tak hanya itu, kami juga menginisiasi program untuk mempercantik lorong-lorong desa dengan pernak-pernik kemerdekaan. Bersama warga dan adik-adik remaja desa, kami menghias jalan-jalan dengan bendera merah putih kecil, umbul-umbul, dan mural bertema nasionalisme. Setiap lorong menjadi lebih hidup dan penuh semangat menjelang perayaan 17 Agustus. Melihat senyum warga saat desa mereka tampak meriah adalah kepuasan tersendiri yang tak bisa dibeli.
Selain kegiatan perayaan, kami juga rutin membantu di Kantor Desa. Aku beberapa kali diminta membantu pembuatan desain spanduk kegiatan, mendokumentasikan program pembangunan desa, dan menyusun laporan kegiatan. Keahlianku di bidang desain grafis ternyata sangat berguna dalam konteks pengabdian ini, dan menjadi bekal tambahan yang berguna dalam kerja lintas bidang.
Selama KKN, interaksi dengan warga menjadi sumber pelajaran yang berharga. Dari mereka aku belajar tentang kesederhanaan, solidaritas, dan ketangguhan hidup di desa. Mereka tidak hanya menyambut kami sebagai tamu, tapi juga memperlakukan kami sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Banyak momen penuh canda dan tawa yang tidak terlupakan, dari makan bersama di rumah warga, bercocok tanam, hingga duduk santai di warung kopi membahas kehidupan.
KKN bukan hanya tentang menyelesaikan tugas kampus, tapi tentang mengasah empati dan kepekaan sosial, tentang bagaimana menjadi manusia yang bisa hadir dan berkontribusi di mana pun berada. Aku belajar bagaimana bekerja dalam keterbatasan, mengatur program dengan sumber daya yang minim, dan menyesuaikan ide besar dengan kondisi nyata di lapangan.
Setelah 40 hari berlalu, saat hari perpisahan tiba, rasanya berat meninggalkan desa ini. Warga mengadakan acara kecil sebagai ucapan terima kasih, dan tak sedikit dari mereka yang berharap kami bisa kembali suatu hari nanti. Perjalanan KKN di Panigoran menjadi salah satu babak penting dalam karier pengabdianku sebagai mahasiswa, yang kelak akan membentuk caraku melihat dunia dan berinteraksi dengan masyarakat.
Kini, setiap kali aku mengingat perjalanan itu, aku tidak hanya melihatnya sebagai kewajiban akademik yang telah selesai, tetapi sebagai fondasi pengabdian yang membekas dalam hati. Desa Panigoran dan orang-orangnya telah memberi lebih dari sekadar ruang belajar, tetapi mereka memberi kenangan, pelajaran hidup, dan pengalaman yang akan terus kubawa ke mana pun aku melangkah.
Komentar
Posting Komentar