Menangkap Momen dan Menyulam Cerita


Dunia multimedia memang luas, tapi ada dua cabang yang sejak lama telah menjadi tempatku mengekspresikan kreativitas: fotografi dan videografi. Bagi sebagian orang, keduanya hanya soal kamera, pencahayaan, dan sudut pengambilan gambar. Tapi bagiku, itu adalah soal rasa, bagaimana membekukan waktu, dan bagaimana menghidupkan kembali momen yang telah berlalu menjadi kisah visual yang penuh makna.



Pengalaman paling berkesan dimulai ketika aku dipercaya menjadi photographer di ajang Sumut Fashion Week, mendokumentasikan para pelaku UMKM binaan Bank Indonesia. Di sana, aku menangkap bukan hanya gerak para model, tapi semangat dari balik kain-kain lokal, motif batik khas daerah, dan wajah bangga para perajin. Setiap jepretan menjadi medium untuk membumikan karya anak bangsa kepada publik yang lebih luas.

Namun, tidak hanya di panggung megah seperti fashion show aku bekerja. Dalam lingkaran yang lebih personal, aku juga kerap menjadi videographer untuk acara penting teman-temanku. Salah satunya saat acara lamaran sahabat, di mana aku mendokumentasikan seluruh prosesi dengan pendekatan sinematik. Kamera bergerak pelan, fokus pada ekspresi bahagia dan gugup yang tak bisa diucapkan. Setelah proses editing yang teliti, video itu menjadi kenangan indah yang kini mereka simpan sebagai bagian dari kisah hidupnya.

Pengalaman menarik lainnya datang saat temanku mempersiapkan portofolio olahraga untuk seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Ia meminta bantuanku merekam teknik bermain dan aktivitas fisiknya sesuai dengan syarat yang diminta panitia seleksi. Kami memilih lokasi outdoor yang sesuai, menyesuaikan gerakan dengan sudut pengambilan terbaik, dan menyusun alur video yang rapi. Hasilnya, ia lolos seleksi masuk PTN, dan aku merasa ikut menjadi bagian dari keberhasilannya.

Tak lama berselang, aku juga mendapat kepercayaan untuk mendokumentasikan perjalanan teman lainnya dalam kontestasi Putri Hijab. Video pendek yang kami produksi berisi narasi tentang kepribadiannya, komitmennya terhadap dakwah hijab, hingga kegiatan sosial yang ia lakukan. Dengan gabungan footage visual dan voice over, video itu menjadi alat kampanye citra yang kuat. Alhamdulillah, ia menjuarai kontes tersebut, dan sekali lagi aku membuktikan bahwa karya visual bukan sekadar dokumentasi, tapi bisa menjadi senjata pencapaian. Tidak hanya itu, semua yang aku lakukan untuk mereka tidak perlu bayaran, alias gratis dari niat hatiku yang paling dalam untuk membantu teman yang sedang berjuang.

Setiap proyek selalu memiliki tantangan unik. Di fashion show aku harus bermain cepat, di lamaran harus penuh rasa, di portofolio olahraga harus teknis, sementara di kontestasi Putri Hijab harus naratif. Tapi semuanya memberikan satu pelajaran: sebagai videographer dan photographer, aku bukan hanya mengambil gambar, tapi membangun kepercayaan dan memetakan emosi.

Proses setelah pengambilan gambar pun sama pentingnya. Aku mengedit dengan teliti, memilih musik latar yang sesuai, menyusun transisi, hingga menentukan tone warna yang pas untuk nuansa cerita. Aku percaya, setiap frame harus punya nyawa. Dan nyawa itu muncul ketika teknik berpadu dengan pemahaman emosional terhadap subjeknya.

Melalui kamera, aku menyadari bahwa setiap momen punya nilai dan cerita. Setiap klien bukan sekadar “proyek”, tapi seorang tokoh dalam kisah hidup yang sedang dibangun. Dan aku merasa terhormat bisa menjadi penulis narasi visual dalam kisah-kisah itu.

Kini, karya-karya tersebut menjadi bagian dari portofolioku yang terus berkembang. Aku merasa bangga telah menempuh perjalanan ini dari awal bermodalkan ilmu dari sekolah menengah kejuruan jurusan multimedia, hingga bisa berdiri di berbagai kesempatan profesional sebagai seorang kreator visual.

Dari layar kecil kamera hingga layar besar kenangan orang lain, aku akan terus merekam, menyunting, dan menghadirkan kisah. Karena bagiku, setiap momen layak untuk diabadikan dengan sebaik mungkin.

Komentar