Menerobos Kabut Ilusi: Di Balik Lahirnya Buku Pertamaku


Perjalanan ini dimulai bukan dari ruang kelas atau seminar ilmiah, melainkan dari keresahan yang selama ini terpendam. Dunia terasa seperti panggung besar yang dipenuhi aktor-aktor berkuasa, memainkan skrip yang hanya mereka pahami, sementara rakyat kebanyakan menjadi penonton atau bahkan pion mereka. Dari situ, muncul gagasan untuk menyusun buku “Permainan Dalam Peradaban Dunia”, sebuah karya yang mencoba membongkar ilusi sistem global yang membelenggu peradaban modern.

Ide utama buku ini bersandar pada satu tema besar: sistem kapitalis dan eksploitasi global. Aku mengangkat bagaimana sistem ini secara sistematis menciptakan ketimpangan, mengubah negara menjadi korporasi, dan manusia menjadi komoditas. Kapitalisme tidak lahir sebagai sistem netral, tapi sarat agenda kekuasaan. Dari sejarah kolonialisme hingga dominasi bank sentral swasta, semuanya terangkai menjadi satu narasi: dunia tidak bekerja seperti yang kita bayangkan.

Selama proses penulisan, aku menyelami banyak referensi dan dokumen di perpustakaan Bank Indonesia. Banyak buku yang aku temukan memiliki batasan dalam peredarannya. Tak sedikit jam istirahat kerja yang kulewati dengan membaca arsip-arsip ekonomi politik dunia, memetakan bagaimana jaringan kekuasaan bekerja dari balik layar. Aku tak hanya menulis, tapi juga berdialog dengan sejarah dan mencoba mengurai siapa yang sebenarnya bermain dalam peradaban kita.

Setiap bab dalam buku ini kubuat dengan pendekatan naratif. Aku ingin pembaca merasa seperti sedang menonton film dokumenter yang membuka tabir, satu demi satu. Tidak dengan bahasa akademik yang kaku, tapi dengan gaya tutur yang membumi, agar bisa dicerna oleh siapa saja yang ingin memahami mengapa dunia hari ini begitu sarat ketimpangan dan manipulasi.

Menulis buku ini bukan perkara mudah. Selain tantangan riset, aku juga harus menghadapi keraguan dari dalam diri. “Siapa yang akan baca buku seperti ini?”, pikirku waktu itu. Tapi aku sadar, buku ini bukan untuk semua orang. Ia ditulis untuk mereka yang selama ini merasa ada yang janggal dalam sistem dunia, tapi belum bisa merumuskannya secara utuh. Buku ini adalah suara alternatif, suara yang mungkin kecil, tapi tak ingin bungkam.

Setelah naskah selesai, aku mengambil langkah yang tak biasa: menerbitkan secara mandiri di bawah penerbit Rabka Madbarlana Publisher milikku. Aku mencetaknya terbatas, dengan harga Rp 149.000 per eksemplar, ditambah ongkos kirim sesuai lokasi. Strategi ini kulakukan karena ingin menjaga kualitas cetakan dan mengontrol distribusi. Aku tidak membidik pasar besar, tapi pembaca yang memang haus akan perspektif kritis dan independen.

Untuk promosi, aku tidak memilih jalur iklan berbayar atau toko buku besar. Justru, aku bergerilya secara diam-diam: menyisipkan komentar promosi buku ini di akun-akun media sosial yang membahas penguasa global, elit dunia, dan teori sistem dunia modern. Aku menyelipkan kutipan tajam dari isi buku, atau sekadar mengomentari dengan kalimat yang membangkitkan rasa penasaran, lalu menaruh link atau clue tentang bukuku. Tanpa disangka, pendekatan ini ternyata berhasil menarik perhatian orang-orang yang memang sudah punya minat terhadap tema besar yang kuangkat.


Responsnya mengejutkan. Dalam penjualan awal, aku berhasil menjual empat eksemplar buku, semuanya dari mereka yang menemukan komentarku di kolom diskusi panas tentang tatanan dunia baru, kapitalisme global, atau dominasi elite. Mereka membeli bukan karena iklan, tapi  rasa penasaran dengan buku ini karena terasa seperti bagian dari puzzle yang selama ini mereka cari. Momen ini membuatku sadar, kadang strategi bawah tanah lebih efektif dalam membangun pembaca yang loyal dan benar-benar menghayati isi pesan.

Momen penjualan pertama itu sangat berkesan. Bukan hanya karena berhasil menjual produk intelektual pertamaku, tapi juga karena pembaca pertama ini datang dari mereka yang benar-benar peduli akan isi buku, bukan sekadar ikut-ikutan tren. Mereka berdiskusi, mengirim pesan pribadi, dan memberikan testimoni bahwa buku ini membuat mereka “melihat dunia dengan cara yang berbeda”.

Melalui buku ini, aku belajar bahwa perjuangan melawan sistem tidak harus dimulai dari panggung besar. Bahkan sebuah buku yang dicetak secara terbatas, selama punya isi yang jujur dan tajam, bisa menjadi percikan yang menyalakan api kesadaran. Aku sadar, ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang untuk terus menulis, menyuarakan, dan membongkar tabir yang selama ini dianggap biasa.

Kini, “Permainan Dalam Peradaban Dunia” bukan hanya buku pertamaku, tapi juga jejak awal perjuanganku sebagai penulis yang ingin mengabdi pada kebenaran. Aku percaya, dunia yang adil harus dibangun dari kesadaran yang merata. Dan selama masih ada ruang untuk berpikir bebas, maka akan selalu ada harapan untuk perubahan yang nyata.

Komentar