2025: TITIK BALIK
Perjalanan kali ini membawaku menuju kesejukan Sibolangit selama tiga hari penuh. Kehadiranku di sana bukan sebagai peserta biasa, melainkan sebagai tamu undangan khusus/demisioner dalam acara Upgrading yang diselenggarakan oleh GenBI Komisariat UNIMED. Duduk di dalam bus yang melaju membelah jalanan, memandangi pemandangan yang berganti di balik jendela, memberi waktu bagiku untuk merenung. Acara ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi menjadi ruang refleksi atas segala dinamika hidup yang telah kulalui beberapa waktu belakangan ini.
Setelah perjalanan ke Sibolangit ini terlaksana di bulan Januari, ada momentum berharga yang kuukir di bulan Maret. Di tengah waktu senggang, aku memilih untuk tetap produktif dengan menulis. Dari ketukan jemari dan curahan pemikiran itulah lahir karya literasi yang siap dilepas ke masyarakat. Menulis saat itu menjadi pelarian sekaligus investasi ide yang ternyata membuka pintu rezeki dan pencapaian baru yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Buah manis dari ketekunan di bulan Maret itu akhirnya memanen hasil memasuki bulan April. Buku pertama dan kedua karyaku resmi terjual dalam dua hari berturut-turut. Mengandalkan kekuatan media sosial, aku memasarkan buku berjudul “Permainan Dalam Peradaban Dunia” tersebut melalui aplikasi TikTok. Sangat mengejutkan sekaligus membanggakan ketika mengetahui apresiasi datang dari tempat yang jauh; pesanan tersebut datang dari seorang pembaca di Denpasar, Bali, dan disusul pesanan berikutnya yang terbang menuju Samarinda, Kalimantan Timur.
Estafet keberhasilan penjualan ini tidak berhenti sampai di situ, karena pasar digital terus menunjukkan kuasanya. Buku ketigaku kemudian berhasil dipinang oleh seorang pembeli melalui aplikasi Shopee untuk pengiriman ke Semarang, Jawa Tengah. Seolah semesta mendukung alur cerita ini, tepat sehari sebelum buku ketiga tersebut mendarat di tangan pemilik barunya, notifikasi ponselku kembali berdering. Pesanan keempat pun menyusul masuk melalui TikTok, kali ini siap dikirimkan menuju Tangerang Selatan, Banten.
Buku yang kutilis ini memang membawa tema yang sangat mendalam dan berani, yakni tentang pengendalian ekonomi dunia yang dikendalikan oleh penguasa global dalam satu lingkaran keluarga besar. Di dalamnya, aku mengupas tuntas dari mana sistem ini mulai terbentuk secara perlahan namun pasti. Lebih jauh lagi, buku ini membedah bagaimana mereka membangun kepercayaan masif dari semua orang di dunia terhadap sistem buatan tersebut, serta merancangnya sedemikian rupa agar tetap kokoh bertahan hingga hari ini.
Aku juga menceritakan bagaimana sistem global ini terus bertahan dari waktu ke waktu meskipun gelombang perlawanan kerap datang menerpa. Narasi di dalam buku mengalir hingga ke titik yang kelam, memperlihatkan bagaimana pihak-pihak yang mencoba menentang dominasi ini berakhir ditindas dengan berbagai cara yang keji. Mulai dari kematian yang dipenuhi kejanggalan hingga fenomena menghilang secara misterius, yang ironisnya, kasus-kasus tersebut terkubur rapi dan tidak pernah terungkap sampai kapan pun.
Di luar urusan karya dan literasi, tahun ini juga menandai sebuah tonggak kedewasaan baru dalam kehidupan pribadiku. Ini adalah tahun pertama kalinya aku mempersiapkan perayaan hari raya Islam sepenuhnya dengan tanganku sendiri. Menjelang Idul Fitri, ada kepuasan batin yang berbeda saat menyambut hari kemenangan dengan kemandirian penuh, mempersiapkan segala kebutuhan rumah, serta memastikan atmosfer kehangatan lebaran terasa nyata bagi orang-orang di sekitarku.
Tradisi berbagi yang sudah kurintis sejak tahun 2020 pun tetap kujaga dengan penuh rasa syukur. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keponakan tersayang serta anak-anak kecil yang tinggal di lingkungan sekitar rumah sebesar Rp. 20.000 per orang yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya hanya Rp. 5000 dari tahun 2020. Melihat binar bahagia di wajah mereka saat menerima amplop lebaran selalu menjadi candu tersendiri yang mengingatkanku untuk selalu membumi dan berbagi atas setiap nikmat yang telah diterima.
Meja ruang tamu pun kuhias dengan meriah melalui persiapan hidangan yang matang. Aku membeli enam macam jenis kue raya yang masing-masing beratnya mencapai satu kilogram, mulai dari Kuping Gajah, Kue Bawang Ubi Rambat, Kripik Tempe, Kacang Arab, Orong-orong, hingga Alen-alen. Sebagai penyegar, aku menyediakan dua kotak Cleo botol dan satu botol Sirup Marjan rasa jeruk, tidak lupa menambahkan Astor serta Bolu Menara sebagai pelengkap hidangan untuk menyambut siapapun tamu yang datang berkunjung, karena di hari pertama lebaran aku singgah terlebih dahulu ke rumah saudara dan juga kakak-kakakku, sedangkan di lebaran kedua aku menyambut teman-temanku datang kerumah, dan dihari raya ketiga giliran kakak-kakakku datang kerumah, serta dihari raya keempat saudara dari ibuku juga datang kerumah untuk bersilaturahmi.
Keberkahan tahun ini terasa semakin lengkap hingga bersambung pada perayaan Idul Adha. Pada momen kurban kali ini, aku diberikan kelapangan rezeki untuk ikut berkurban dengan membeli satu ekor kambing atas namaku dan uangku sendiri, ini adalah kurban ke dua setelah tahun 2017. Momentum religius ini terasa kian khidmat dan semarak karena abang dan kakakku juga turut serta menunaikan ibadah kurban di tahun yang sama, terkecuali abang pertamaku. Keberkahan ini kian disempurnakan dengan kesibukan baruku sebagai foodvlogger di Facebook melalui akun bernama "Marelan, Indonesia" yang dulu aku buat, karena di tahun ini sukses mendatangkan banyak tawaran endorsement influencer dari berbagai UMKM hingga pelaku usaha besar/perusahaan di wilayah Medan Utara.

Komentar
Posting Komentar