2007: PERSIAPAN KARIR

 


Tahun 2007 adalah tahun yang penuh pengalaman baru dan berkesan dalam hidupku. Di usia 6 tahun, aku mulai memasuki babak baru dalam pendidikan, yaitu menjadi siswa Sekolah Dasar. Hari pertama sekolah menjadi momen yang mendebarkan sekaligus menyenangkan. Aku mengenakan seragam putih merah yang masih terlihat kebesaran, membawa tas baru yang penuh dengan buku, dan ditemani oleh ibuku ke sekolah. Di hari itu, aku bertemu teman-teman baru dan guru yang memperkenalkan kami kepada dunia pendidikan formal. Sekolahku cukup dekat dengan rumah, hanya perlu berjalan melalui lorong-lorong kecil di antara rumah tetangga. Aku sering melewati lorong itu bersama teman-teman, bercanda dan bermain sepanjang perjalanan menuju sekolah.
Selain bersekolah di SD pada pagi hari, aku juga mulai mengikuti sekolah keagamaan di Madrasah Ar-Ridha. Setiap sore, aku pergi ke madrasah untuk belajar tentang agama Islam, seperti membaca Iqra dan Al-Qur'an, menghafal doa-doa, serta memahami nilai-nilai keislaman. Madrasah itu juga tidak terlalu jauh dari rumah, jadi aku bisa berjalan kaki ke sana dengan mudah. Aktivitas ini memberiku pemahaman lebih mendalam tentang agama sekaligus menambah kesibukan sehari-hariku.
Awalnya, aku merasa sedikit lelah karena jadwal yang padat, tetapi lama-kelamaan aku terbiasa dan justru menikmati rutinitas tersebut.
Salah satu kenangan yang paling menyenangkan di tahun itu adalah saat abang keduaku membeli PlayStation 1. Itu adalah pertama kalinya aku merasakan bermain konsol game. Rasanya sangat seru dan baru bagiku. Aku ingat permainan favoritku saat itu adalah "Harvest Moon" dan "Taken Tag." Aku sering bermain bersama abang-abangku di ruang keluarga, bergantian memegang joystick sambil tertawa bersama. Meski kadang aku kalah bermain, mereka tetap memberiku semangat untuk mencoba lagi.
PlayStation 1 itu menjadi hiburan yang mengisi waktu luangku setelah belajar. Setiap kali selesai mengerjakan tugas sekolah atau madrasah, aku langsung berlari ke ruang keluarga untuk bermain game. Abang-abangku selalu memberiku giliran bermain, meskipun waktunya sering dibatasi agar aku tidak lupa belajar. Dari situ, aku belajar untuk menyeimbangkan antara bermain dan tanggung jawab sebagai seorang siswa.
Di SD, aku mulai belajar banyak hal baru, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Guru-guruku sangat sabar dalam mengajarkan kami yang baru memulai pendidikan formal. Aku juga mulai memiliki teman-teman dekat yang sering bermain bersamaku di jam istirahat. Kami bermain kelereng, petak umpet, dan lompat tali di halaman sekolah. Semua aktivitas itu membuatku merasa senang dan semakin akrab dengan teman-teman.
Di madrasah, aku diajarkan cara membaca Iqra dan Al-Qur'an dengan tajwid yang benar. Awalnya, aku kesulitan karena harus menghafal huruf-huruf hijaiyah, tetapi guru-guru di madrasah sangat sabar membimbingku. Aku juga mulai belajar tentang doa sehari-hari yang harus diamalkan, seperti doa sebelum makan dan doa sebelum tidur. Pendidikan di madrasah memberikan fondasi kuat dalam pemahaman agama yang masih aku terapkan hingga sekarang.
Meskipun jadwalku cukup padat, aku merasa senang karena selalu ada hal baru yang aku pelajari setiap harinya. Orang tuaku juga sangat mendukung aktivitas belajarku. Mereka sering membantu mengajariku di rumah, baik untuk tugas sekolah maupun hafalan doa dari madrasah. Dukungan mereka membuatku merasa semakin semangat untuk belajar dan berkembang.
Aku juga mulai merasakan pentingnya disiplin di tahun itu. Dengan dua sekolah yang harus aku jalani, aku belajar untuk mengatur waktu dengan baik. Pagi hari aku habiskan di SD, lalu sore hari di madrasah, dan malam hari digunakan untuk bermain PS sebentar serta mengerjakan tugas. Rutinitas ini mengajarkanku tanggung jawab sejak dini, meskipun kadang aku merasa lelah dan ingin bermain lebih banyak.
Tahun itu juga menjadi momen di mana aku semakin dekat dengan abang-abangku, terutama abang kedua yang membelikan PlayStation 1. Kami sering menghabiskan waktu bersama di rumah, baik untuk bermain game, bercanda, maupun belajar. Abangku yang kedua juga sering membimbingku dalam belajar Iqra dan Al-Qur’an, terkadang bergantian dengan abangku yang pertama.

Komentar