2002: LANGKAH PERTAMA

 


Tahun itu menjadi momen yang sangat berkesan dalam hidupku. Di usiaku yang masih balita, aku sudah mulai bisa berbicara dengan kalimat-kalimat sederhana. Orang tuaku sering tersenyum mendengar celotehku, meskipun terkadang aku mengulang kata-kata yang sama berkali-kali. Mereka sering menceritakan bahwa aku sering memanggil mereka dengan panggilan yang lucu dan terkadang salah mengucapkan beberapa kata, tetapi itu justru membuat suasana menjadi ceria.

Tahun itu juga menjadi tahun pertama aku merasakan naik bus, pengalaman yang tak akan pernah kulupakan. Kami sekeluarga harus pindah rumah dari Jambi ke Medan, sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan cerita. Sebelum berangkat, aku melihat kesibukan di rumah. Barang-barang mulai dikemas dalam kardus-kardus besar, dan semua orang sibuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Barang-barang besar seperti lemari, meja, dan kursi diangkut menggunakan truk dari jasa penyewaan. Aku masih ingat bagaimana truk besar itu parkir di depan rumah, dengan para pekerja yang sibuk mengangkut barang-barang ke dalamnya. Suara mereka yang bersahutan, ditambah dengan deru mesin truk, menjadi sesuatu yang masih teringat jelas di benakku.

Ketika tiba waktunya untuk naik bus, aku merasa sangat antusias. Itu adalah pengalaman pertamaku melihat kendaraan sebesar itu dari dekat. Aku digendong ibuku dengan erat saat menaiki bus, dan aku sangat kagum melihat betapa luasnya bagian dalam bus. Kursi-kursinya berjajar rapi, dan ada banyak orang lain yang juga akan bepergian bersama kami.

Perjalanan di dalam bus terasa sangat menyenangkan meskipun panjang. Aku duduk di dekat jendela bersama ibuku, memperhatikan pemandangan yang berganti-ganti di luar. Sawah yang luas, rumah-rumah kecil, dan pepohonan yang rindang menjadi teman sepanjang perjalanan. Aku bahkan mencoba bertanya kepada ibuku tentang hal-hal yang kulihat di luar, meskipun hanya dengan kalimat sederhana.

Di tengah perjalanan, aku sempat merasa bosan dan mulai rewel. Namun, ibuku selalu berhasil menenangkanku dengan mengajak berbicara atau memberiku makanan ringan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Abang dan kakakku juga sesekali bercanda untuk menghiburku, membuat perjalanan itu terasa lebih singkat.

Sesampainya di Medan, kami langsung menuju rumah baru yang sudah disiapkan saudaraku yang tinggal di Medan, saudara itu adalah adik pertama ibuku yang merupakan anak kedua dalam keluarganya, ibuku adalah anak pertama dalam keluarga tersebut. Aku merasa asing dengan lingkungan baru itu, tetapi rasa lelah karena perjalanan membuatku lebih fokus untuk beristirahat di ayunan. Truk yang membawa barang-barang kami tiba beberapa jam kemudian, dan para pekerja mulai menurunkan barang-barang ke dalam rumah.

Aku masih kecil saat itu, tetapi aku menyadari betapa pentingnya momen tersebut bagi keluargaku. Pindah ke tempat baru berarti memulai hidup baru dengan segala tantangannya. Aku melihat semangat orang tuaku, terutama ibuku, yang dengan sigap mengatur barang-barang di rumah baru kami.


Komentar